Senin, 09 Januari 2012

A. ESENSI PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN SERTA TITIK TEMUNYA


      Menurut paham umum kata “pembangunan” lazimnya diasosiasikan dengan pembangunan ekonomi dan industrya yang selanjutnya diasosiasikan dengan dibangunnya pabrik-pabrik, jalanan, jembatan sampai kepada pelabuhan, alat-alat transportasi, komunikasi, dan sejenisnya. Sedangkan hal mengenai sumber daya manusia tidak secara lansung terlihat sebagai sasaran pembicaraan. Padahal banyak bukti yang dialami oleh banyak Negara menunjukkan bahwa kemajuan di bidang ekonomi dan industry ditandai oleh kenaikan GNP, lalu kenaikan volume ekspor dan impor sebagai indikatornya, ternyata tidak otomatis membawa kesejahteraan masyrakatnya. Kondisi  demikian justru menimbulkan gejala penyerta yang negative, antara lain: kegoncangan social politik, karena kasengsaraan masyarakat, seperti dialami oleh Negara Pakistan akhir-akhir ini; meningkatnya pengangguran dan kemelaratan seperti dialami oleh Malaysia dan beberapa Negara tetangga lainnya. 
         Gambaran di atas  itu menunjukkan bahwa pembangunan dalam arti yang terbatas pada bidang ekonomi dan industri saja belumlah menggambarkan esensi yang sebenarnya dari pembangunan, jika kegiatan-kegiatan tersebut belum dapat mengatasi masalah yang hakiki yaitu terpenuhinya hajat hidup dari rakyat banyak material dan spiritual.

          Disini terlihat, bahwa esensi pembangunan bertupu dan berpangkal dari manusiaya,bukan pada lingkungannya seperti perkembangan ekonomi sebagaimana telah dikemukakan. Pembangunan berorientasi pada pemenuuhan hajat  manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.
                       
           Seperti yang dinyatakan dalam GBHN, hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa yang menjadi tujuan akhir pembangunan adalah manusianya, yaitu dapatnya dipenuhi hajat hidup, jasmaniah dan rohaniah, sebagai mahluk individu, mahluk social, dan mahluk religious, agar dengan demikian dapat meningkatkan martabatnya selaku mahluk. Jika pembangunan bertolak dari sifat hakikat manusia, berorientasi kepada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai sebutan dapat diartikan bahwa yang menjadi tujuan akhir pembangunan adalah manusianya, yaitu dapatnya dipenuhi hajat hidup manusia sesuai sebutan dapat diartikan bahwa yang menjadi tujuan akhir pembangunan adalah manusianya, yaitu dapatnya dippenuhi hajat hidup, jasmaniah, dan rohaniah, sebagai mkhluk individu, mahluk social, dann makhluk religious, agar dengan demmikian dapat meningkatkan martabatnya selaku makhluk.
     
       Jika pembangunan bertolak dari sifat hakikat manusia,berorientasi kepada pemenuhan hajat hidu[ manusia sesuai dengan kordratnya sebagai manusia maka dalam ruang gerak pembangunan, manusia dapat dipandang sebagai “objek” dan sekaligus juga sebagai “subjek” pembangunan. Sebagai objek pembangunan manusia dipandang sebagai sasaran yang dibangun.dalam hal ini pembangunan meliputi ikhtiar ke dalam diri manusia, berupa pembinaan pertumbuhan jasmani, dan perkembangan rohani yang meliputi kemampuan penalaran, sikap diri, sikap social, dan sikap terhadap lingkungannya, tekad hidup yang positif serta keterampilan kerja. Ikhtiar disebut pendidikkan. Manusia dipandang sebagai “subjek” pembangunan karena ia dengan segenap kemampuannya menggarap lingkungannya secara dinamis dan krreatif, baik terhadap sarana lingkungan alam maupun lingkungan social/spiritual. Perekayasaan terhadap lingkungan ini lazim disebut pembangunan.
                       
         Jika pendidikan dan pembangunan dilihat sebagai suatu garis proses, maka keduanya merupakan suatu garis  yang terletak continue yang saling mengisi. Proses pendidikan pada satu garis menempatkan manusia sebagai titik awal, karena pendidikan mempunyai tugas untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi hajat hidup masyarakat luas serta mengangkat martabat manusia sebagai mahkluk. Bahwa hasil pendidikan menunjang pembangunan, juga dapat dilihat korelasinya dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang mengalami pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar